Rabu, 05 Juni 2013

TENANG INVESTASI…



            Investai adalah komitmen atas sejumlah dana atau sumber daya lainnya yang dilakukan pada saat ini, dengan tujuan memperoleh sejumlah keuntungan dimasa yang datang. Seorang investor membeli sejumlah saham saat ini dengan harapan memperoleh keuntungan dan kenaikan harga saham ataupun sejumlah dividen di masa yang akan datang, sebagai imbalan atas waktu dan risiko yang terkait dengan investasi tersebut. Bahkan sebagai contoh sederhana, waktu yang Anda korbankan untk mebaca modul ini merupakan suatu investasi. Anda harus merelakan waktu santai Anda bersama keluarga untuk membaca modul ini dengan harapan memperoleh karier sukses di masa datang. Harapan akan masa depan yang lebih baik tersebut merupakan imbalan atas komitmen waktu dan usaha yang Anda lakukan saat ini.
            Istilah investasi bisa berkaitan dengan berbagai macam aktivitas. Menginvestasi-kan sejumlah dana pada aset real (tanah, emas, mesin atau bangunan) maupun aset financial (deposito, saham ataupun obligasi) merupakan investasi yang umumnya dilakukan. Bagi investor yang lebih pintar dan lebih berani menanggung risiko, aktivitas investasi yang mereka lakukan juga bisa mencakup investasi pada masa pada saet-aset finansial lainnya yang lebih kompleks seperti warant, options dan futures maupun ekuitas internasional. Aset finansial adalah klaim berbentuk surat berharga atas sejumlah aset-aset finansial yang bisa diperdagangkan dengan mudah dan dengan biaya transaksi yang murah pada pasar yang terorganisir.
            Pihak-pihak yang melakukan kegiatan investasi disebut investor. Investor pada umumnya bisa digolongkan menjadi dua, yaitu investor individual (individual/retail in-vestor). Investor individual terdiri dari individu-individu yang melakukan aktivitas in-vestasi. Sedangkan investor institusional biasanya terdiri dari perusahaan-perusahaan asuransi, lembaga penyimpan dana, lembaga dana pensiun, maupun perusahaan inves-tasi. Investasi juga merupakan bagaimana mengelola kesejahteraan investor. Kesejahte-raan dalam konteks investasi berarti kesejahteraan yang bersifatnya moneter bukannya kesejahteraan rohaniah. Kesejahteraan moneter bisa ditunjukkan oleh penjumlahan pendapatan yang dimiliki saat ini dan nilai saat ini (present value) pendapatan di masa yang datang.
            Orang seharusnya membuat keputusan seperti beberapa banyak penghasilan saat ini yang seharusnya dihabiskan atau dikonsumsi dan beberapa banyak seharusnya diinvestasikan menurut prerferensinya. Dalam menetapkan preferensinya ini, mereka seharusnya membuat keputusan sedemikian rupa sehingga mencapai tingkat tertinggi kepuasan personal. Orang seharusnya membuat keputusan konsumsi/investasi dalam suatu cara yang akan memaksimalkan utilitasnya. Dalam hal ini, utilitas merupakan pengukuran tingkat kepuasan individu dab akan berbeda-beda antar individu.
            Di dalam area keuangan (finance), individu biasanay diasumsikan dapt memak-simalkan utilitasnya dengan memaksimumkan kesejahteraannya. Seperti yang telah dibahas sebelumnya, kesejahteraan diukur dengan nilai sekarang arus penghasilan individual. Alternatif lain, kesejahteraan dapat diukur dengan nilai sekarang banyaknya uang yang disediakan oleh individu untuk dikonsumsi. Dengan memperoleh kesejahte-raan tertinggi, orang dapat menikmati konsumsi uangnya misalnya untuk membeli rumah, mobil, perhiasan dan sebagainya. Namun sebagian menginvestasikan sebagian uangnya untuik konsumsi di masa datang. Contohnya mereka memutuskan untuk menunda konsumsi saat ini dan membeli saham atau mendepositokan uangnya. Dalam kasus lain mereka berinvestasi (inveting dan leading). Sedankan dipihak lain, sebagian individu yang tidak mencukupi dananya untuk konsumsi saat ini denga meminjam.

Tujuan investasi
            Apa tujuan investasi? Pada dasarnya tujuan orang melakukan investasi adalah untuk “menghasilkan sejumlah uang” semua orang mungkin setuju dengan pernyataan tujuan investasi tersebut. Tetapi pernytaan tersebut nampaknya terlalu sederhana, sehingga kita perlu mencari jawaban yang lebih tepat tentang tujuan orang berinvestasi. Seperti disinggung dimuka, tujuan investasi yang lebih luas adalah un tuk meningkatkan kesejahteraan investor. Kesejahteraan dalam hal ini adalah kesejahteraan moneter yang bisa diukur dengan penjumlahan pendapatan saat ini ditambah nilai saat ini penda-patan masa depan. Sumber dana untuk investasi bisa berasal adri aset-aset yang dimi-liki saat ini, pinjaman dari pihak lain, ataupun dari tabungan. Invetor yang mengurangi konsumsinya saat ini akan mempunyai dan kelebihan untuk ditabung. Dana yang bera-sal dari tabungan tersebut jika diinvestasikan akan memberikan harapan peningkatan kemampuan konsumsi investor yang masa datang, yang diperoleh dari peningkatan kesejahteraan investor tersebut.
            Secara lebih khusus lagi, ada beberapa alasan mengapa seseorang melakukan investasi, antara lain sebagai berikut.
·         Untuk mendapatkan kehidupan yang lebih layak di as yang akan datang. Seorang yang bijaksana akan memikirkan bagaimana meningkatkan taraf hidupnya dari waktu ke waktu atau setidaknya berusaha bagaimana mempertahankan tingkat pendapatannya yang ada sekarang agar tidak berkurang di masa datang.
·         Mengurangi tekanan inflasi. Dengan melakukan investasi dalam pemilikan peru-sahaan atau objek lain, seseorang dapat menghindarkan diri dari risiko penu-runan nilai kekayaan atau hak milik yang melakukan investasi pada bidang-bidang usaha tertentu.
Proses Investasi
Proses investasi meliputi pemahaman dasar-dasar keputusan investasi dan bagaimana mengorganisir aktivitas-aktivitas dalam proses keputusan investasi. Untuk memahami proses investasi sesorang investor terlebih dahulu harus mengetahui bebe-rapa konsep dasar investasi, yang akan menjadi dasar pijakan dalam setiap tahap pem-buatan keputsan investasi yang akan dibuat.
Hal mendasar dalam keputusan adalah penanaman hubungan return dan risiko. Berikut ini akan dibahas keputusan investasi. Hubungan risko dan return harapan dari suatu investasi merupakan hubngan yang searah dan linear. Artinya, semakin besar return harapan, semakin besar pula tingkat risko yang dipertimbangkan. Hubungan seperti itu yang menjawab semua pertanyaan mengapa semua investor hanya berin-vestasi pada aset yang menawarkan tingkat return yang paling tinggi, investor juga hasru mepertimbangkan tingkat risko yang harus ditanggung.
Dasar Keputusan Investasi
Dasar keputusan investasi terdiri dari tingkat return harapan, tingkat risiko serta hubungan antara return dan risiko. Berikut ini akan dibahas masing-masing dasar keputusan investasi tersebut.
Return. Alasan utama orang berinvestasi adalah untuk memperoleh keuntungan. Dalam konteks manajemen investasi tingkat keuntungan investasidisebut return. Suatu hal yang sangat wajar jika investor menuntut tingkat return tertentu atas dana yang telah diinvestasikannya. Return harapan investor dari investasi yang dilakukan merupa-kan kompensasi atas biaya kesemptan (opportunity cost) dan risiko penurunan daya beli akibat adanya pengaruh inflasi.
Dalam konteks manejemn investasi, perlu dibedakan antara return harapan (expect-ed return) dan return aktual atau yang terjadi (realized return). Return harapan meru-pakan tingkat  return yang diantisipasi di masa datang. Sedangkan return yang terjadi atau return aktual merupakan tingkat return yang diperoleh investor pada masa lalu. Ketika investor menginvestasi dananya, dia akan mensyaratkan tingkat return tertentu – dan jika periode investasi telah berlalu, investor tersebut dihadapkan pada tingkat return yang sesungguhnya dia terima. Antara tingkat return harapan dan tingkat return aktual yang diperoleh investor dari investasi yang mungkin saja berbeda. Perbedaan antara return harapan dengan return yang benar-benar diterima (return aktual) meru-pakan risko yang harus selalu dipertimbangkan dalam proses investasi sehingga dalam berinvestasi di samping mempertimbangkan tingkat resiko suatu investasi.
Risiko. Sudah sewajarnya jika investor mengharapkan return yang setinggi-tingginya dari investasi yang dilakukannya. Tetapi, ada hal yang dipertimbangkan, yaitu beberapa besar risiko yang harus di tanggung dari investasi tersebut. Umumnya semakin besar tingkat resiko semakin besar risiko, maka semakin besar pula tingkat return harapan. Penelitian terhadap return saham dan obligasi di Amerika Serikat yang dilakukan Siegel (1992) yang menemukan bahwa dalam periode return saham atas return obligasi tersebut disebut juga sebagai equity premium. Tersebut adanya fakta bahwa risiko saham lebih tinggi dari risiko obligasi.
Risiko dapat diartikan sebagai kemungkinan return aktual yang berbeda dengan return harapan. Secara spesifik, mengacu pada kemungkinan realisasi return aktual lebih rendah dari return minimun yang diharapakan. Return minimu yang diharapkan seringkali juga disebut returnyang disyaratkan (required rate of return). Dalam ilmu ekonomi pada umumnya dalam ilmu investasi adalah makhluk yang rasional. Investor yang rasional tentunya tidak akan menyukai ketidakpastian atasu risiko. Investor yang mempunyai sikap enggan terhada resiko seperti ini disebut sebagai  risk-averse investor. Investor seperti ini tidak akan masa mengambil risiko suatu investasi jika investasi tersebut tidak memberikan harapan returyang layak sebagai kompenssasi terhadap risiko yang harus ditanggung investor tersebut.

Sikap investor terhadap risiko akan sangat tergantung kepada preferensi inves-tor tersebut terhadap risiko. Investor yang lebih berani akan memilih risiko investasi yang lebih tinggi yang diikuti oleh harapan tingkat return yang tinggi pula. Demikian pula sebaliknya, investor tidak mau menanggung risiko yang terlalu tinggi, tentunya tidak akan bisa mengharapkan tingkat return yang terlalu tinggi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar